Make your own free website on Tripod.com

SIKAP ILMIAH DALAM ORIENTASI

Oleh: Abdul Gafur

 

 


Ketika tulisan ini dimuat, barangkali semua lembaga pendidikan formal di daerah kita sudah selesai melaksanakan kegiatan orientasi untuk mahasiswa dan siswa baru. Entah sejak kapan kegiatan ‘wajib’ tahunan ini mulai ada. Yang jelas, saat ini dari sekolah lanjutan sampai perguruan tinggi, negeri maupun swasta, mengagendakan acara rutin ini.

Namanya bermacam-macam, OPSPEK, OSPEK, PPB, atau apalah lagi. Namun, intinya sama saja, yakni menyambut mahasiswa atau siswa baru. Isinya pun bermacam-macam. Ada ceramah, kerja bakti, baris-berbaris, dsb. Akan tetapi, tujuannya kurang lebih sama saja, yaitu menyiapkan para mahasiswa atau siswa baru untuk memasuki ‘kehidupan’ baru yang dianggap jauh berbeda dari yang dijalaninya dulu.

Belakangan, kegiatan ini mendapat sorotan tajam. Ini dipicu oleh korban-korban yang berjatuhan karena tidak tahan dengan kerasnya gemblengan dalam acara ini, terutama yang diadakan di perguruan tinggi. Derasnya kritikan mendorong pimpinan masing-masing perguruan tinggi untuk ‘mengatur’ penyelenggaraannya di lembaganya masing-masing. Malah, pemerintah sendiri akhirnya turun tangan dengan terbitnya Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Nomor 38/DIKTI/Kep/2000 tanggal 26 Februari 2000 tentang Pengaturan Kegiatan Penerimaan Mahasiswa Baru di Perguruan Tinggi.

SK Dirjen Dikti tersebut antara lain menyebutkan bahwa kegiatan pengenalan terhadap program studi di perguruan tinggi hanya boleh dilakukan dalam rangka kegiatan akademik dan dilaksanakan oleh pimpinan perguruan tinggi. Ini berarti pembatasan keterlibatan mahasiswa lama (senior). Agaknya dasar utamanya adalah kenyataan bahwa selama ini penentuan isi kegiatan orientasi didominasi oleh mahasiswa lama dan jatuhnya korban justeru pada sesi-sesi yang dipandu oleh mahasiswa lama.

Keputusan itu tidak bisa diterima begitu saja oleh mahasiswa lama, khususnya para ‘aktivis’ kampus. Negosiasi yang dilakukan dengan pimpinan tidak membuahkan hasil seperti yang mereka harapkan. Bahkan untuk mengadakan kegiatan tersendiri sebelum atau sesudah kegiatan resmi pun dilarang. Konflik pun terjadi. Di ISI Yogyakarta, misalnya, terjadi aksi corat-coret dinding dan kaca gedung rektorat. Di Unlam, mahasiswa lama Fakultas Teknik mengeluarkan pernyataan untuk tidak akan memberi fasilitas kegiatan kemahasiswaan apapun dan tidak akan bekerja sama dalam bentuk apapun dengan adiknya yang baru masuk.

Konflik semestinya tidak terjadi apabila semua pihak mau berpikir jernih dan mengedepankan sikap ilmiah. Para mahasiswa seyogyanya tidak bertindak emosional. Pimpinan lembagapun seyogyanya memperhatikan aspirasi mahasiswa yang memang masih dipengaruhi oleh gejolak darah muda. Beberapa hal berikut barangkali dapat dipertimbangkan untuk merencanakan acara penyambutan mahasiswa baru.

 

TUJUAN

            Hal pertama yang perlu dilakukan adalah menetapkan tujuan. Sebagaimana telah penulis singgung di atas, pada dasarnya perploncoan, orientasi, belajar bersama, persiapan belajar, atau apapun namanya, dari dulu sampai sekarang tujuannya sama saja, yaitu memberi bekal kepada mahasiswa baru agar siap memasuki dunia mahasiswa, siap menghadapi proses belajar di perguruan tinggi. Tujuan jangka pendek itu sudah barang tentu mengarah ke sasaran yang lebih jauh dan esensial, yaitu agar mereka berhasil dalam studinya di perguruan tinggi. Meskipun demikian, tidak ada salahnya setiap merencanakan kegiatan penyambutan mahasiswa baru tujuan itu dirumuskan dan disepakati kembali. Ada baiknya, dalam hemat penulis, pimpinan lembaga melibatkan mahasiswa lama sejak tahap ini.

            Setelah tujuan ditetapkan, tahap selanjutnya adalah perencanaan kegiatan untuk mengisi program orientasi tersebut. Dalam hal ini, perlu diingat bahwa setiap kegiatan yang diadakan harus mengarah kepada pencapaian tujuan tersebut.  Mungkin perlu dipertimbangkan untuk mengadakan semacam diskusi ilmiah, yang melibatkan mahasiswa lama, untuk menentukan kegiatan yang akan diadakan. Di sini, semua pihak, pimpinan, staf pengajar ataupun administrasi, hingga mahasiswa, dapat mengajukan usul kegiatan. Yang penting, dalam diskusi ilmiah itu rasionalitas harus dijunjung tinggi. Siapapun yang mengusulkan kegiatan apapun hendaknya secara deduktif dapat menunjukkan bahwa kegiatan itu akan menunjang tercapainya tujuan.

Lebih bagus lagi kalau didukung oleh fakta empiris. Sebagai contoh, misalnya diusulkan untuk memberikan suatu tugas yang harus dikerjakan sendiri oleh mahasiswa baru. Sang pengusul berargumen bahwa itu akan memupuk  kemandirian dan rasa tanggung jawab yang melahirkan dedikasi dan kebesaran hati menerima hukuman. Semua itu diperlukan untuk menghadapi tugas-tugas perkuliahan. Pertanyaan yang bisa diajukan terhadap usul itu, misalnya apakah mahasiswa lama dulu ketika menjalani masa orientasi juga mendapat tugas semacam itu? Jika ya, bagaimana sikap mereka kemudian dalam menghadapi tugas-tugas perkuliahan? Apakah terbukti mereka memang memperlihatkan kemandirian yang tinggi dan melaksanakan tugas yang diberikan dosen dengan penuh tanggung jawab?

Contoh lain, misalnya diusulkan untuk mengadakan kegiatan baris berbaris yang disertai dengan hukuman bagi yang melakukan kesalahan. Katanya, itu dapat memupuk sikap disiplin yang sangat diperlukan oleh mahasiswa agar berhasil dalam studinya di perguruan tinggi. Pertanyaannya, apakah kegiatan serupa diadakan pula di masa orientasi tahun-tahun sebelumnya? Jika ya, bagaimana hasilnya? Apakah para pesertanya (yang sekarang disebut mahasiswa lama) memang kemudian terlihat menunjukkan disiplin yang tinggi dalam studinya?

            Pelibatan mahasiswa lama dalam tahap perencanaan akan memperkecil kemungkinan ketidakpuasan mereka. Karena pembahasan dilakukan secara ilmiah, usul yang ditolak mestinya tidak akan membuat pengusulnya dongkol, apalagi berontak. Selain itu, cara ini bisa menjadi teladan yang sangat mendidik bagi mahasiswa sebagai calon pemimpin agar lebih mengedepankan sikap ilmiah dalam pengambilan keputusan. Sudah barang tentu, sikap ilmiah juga dituntut dari pimpinan lembaga. Sikap otoriter dan pemaksaan pendapat/kehendak harus dihindari sejauh mungkin.

            Apabila tujuan telah ditetapkan dan kegiatan telah direncanakan dengan matang, siapa saja yang terlibat dalam pelaksanaan tidaklah terlalu menjadi masalah. Kalaupun mahasiswa lama dilibatkan, apa saja yang harus dan tidak boleh mereka lakukan sudah jelas. Meskipun demikian, bagaimanapun juga kalau mahasiswa lama terlibat, pengawasan perlu dilakukan oleh pimpinan lembaga untuk mencegah terjadinya penyimpangan. Seandainya terjadi juga sedikit penyimpangan dari rencana, patokan penilaiannya pun sudah jelas, yaitu tujuan yang sudah ditetapkan. Setiap tindakan harus dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah akan mengarah kepada pencapaian tujuan. Penyimpangan yang justeru lebih menunjang tercapainya tujuan harus diacungi jempol. Sebaliknya, yang melenceng dari tujuan harus diberi sanksi, yang sebelumnya juga sudah dibicarakan dan disepakati.

 

EVALUASI

            Setelah kegiatan dilaksanakan, evaluasi harus dilakukan untuk menilai apakah tujuan telah tercapai. Evaluasi pun sebaiknya melibatkan mahasiswa lama. Ini merupakan bagian yang amat penting dalam penanaman sikap ilmiah kepada mereka. Di sini akan dilihat bersama apakah kegiatan yang diadakan, yang secara rasional (deduktif) telah disimpulkan akan dapat menunjang tercapainya tujuan, memang terbukti secara empiris bermanfaat untuk itu.

Ketercapaian tujuan jangka pendek dapat segera dilihat begitu program orientasi ditutup. Akan tetapi, tidak cukup kalau hanya ditanyakan kepada peserta apakah kegiatan ini bermanfaat bagi mereka untuk menghadapi proses belajar di perguruan tinggi. Itu belum cukup, walau tidak berarti tidak perlu. Bisa saja mereka merasa dan mengatakan siap, padahal kenyataannya tidak. Mengapa tidak diadakan tes untuk mengetahui sejauh mana kesiapan peserta untuk belajar di perguruan tinggi? Kalau tidak, bisa juga dengan mengadakan pengamatan terhadap mahasiswa baru di hari-hari awal kuliah untuk melihat apakah memang benar mereka siap untuk belajar di perguruan tinggi.

            Namun, itu pun masih belum cukup. Pertanyaan yang lebih mendasar belum bisa terjawab, yaitu yang menyangkut tujuan jangka panjang. Apakah kegiatan-kegiatan yang dilakukan memang dapat menunjang keberhasilan studi mahasiswa? Artinya, apakah mahasiswa yang mengikuti kegiatan orientasi akan lebih baik prestasi belajarnya di perguruan tinggi daripada yang tidak mengikutinya. Pertanyaan seperti ini jelas tidak akan bisa dijawab di awal masa kuliah, saat mahasiswa-baru baru saja selesai mengikuti orientasi. Untuk itu harus dilakukan pengamatan setelah setidaknya satu atau dua semester. Pertanyaan “apakah kegiatan orientasi bermanfaat membuat Anda lebih siap untuk belajar di perguruan tinggi”, yang sudah diajukan di awal studi, bisa saja disodorkan lagi. Tidak mustahil jawabannya berbeda.

            Kelihatannya evaluasi macam kedua ini sulit dilakukan. Barangkali itulah sebabnya pertanyaan-pertanyaan mendasar semacam berikut ini belum dijawab secara ilmiah dengan memuaskan. Apakah memang mahasiswa baru belum siap untuk menghadapi proses belajar di perguruan tinggi sehingga perlu diberi bekal agar siap? Dengan kata lain, apakah pembekalan itu memang diperlukan? Jangan-jangan jawabannya tidak, dan itu berarti apa yang kita lakukan selama ini hanyalah pemborosan waktu, tenaga, biaya, dan bahkan nyawa! Apakah perploncoan memang secara ilmiah terbukti tidak efektif, sehingga harus diganti dengan bentuk yang baru? Apakah penggantinya memang secara ilmiah terbukti lebih baik? Jangan-jangan yang dilakukan selama ini cuma didasarkan atas pertimbangan rasional teoretis, tanpa didukung fakta empiris. Yang lebih parah, kalau tidak ada usaha untuk mendapatkan fakta empiris itu. Kalau benar demikian, berarti metode ilmiah, yang merupakan perpaduan rasionalisme dan empirisme, belum diterapkan secara utuh oleh para pengambil keputusan.

            Padahal, tanpa teladan sikap ilmiah dari pihak-pihak yang seharusnya menjadi panutan, bagaimana bisa diharapkan mahasiswa kita akan memperlihatkannya. Sayang sekali kalau kesempatan emas yang datang cuma sekali setahun ini tidak dimanfaatkan dengan sebaiknya-baiknya dalam rangka penanaman sikap ilmiah kepada mahasiswa.

 

 

ABDUL GAFUR

Dosen PS Biologi FMIPA Unlam

 


Banjarmasin Post 12 September 2002.