Make your own free website on Tripod.com

SIAPA DISEBUT JURUMASAK?

Oleh: Abdul Gafur

 

 

Analogi masak memasak yang saya maksudkan selama ini adalah dalam KONTEKS SUBSTANSI KEILMUAN [Lihat Tugas Dosen Lebih Ringan (Bpost 19 Nov 2002) dan Perumpamaan Tugas Dosen dan Tugas Guru (BPost 9 Des 2002). Jadi, itu hanya menyangkut MATERI KEILMUAN dari bidang studi. Materi keilmuan bertambah dengan LAHIRNYA PENGETAHUAN ILMIAH BARU.

-        Kegiatan yang menyebabkan lahirnya pengetahuan ilmiah baru = penelitian ilmiah

-        Prosedur yang diterapkan dalam kegiatan (penelitian ilmiah) itu = metode ilmiah

-        Bahan-bahan (mentah) yang diolah untuk dijadikan masakan = pengetahuan ilmiah yang sudah ada.
(Untuk merumuskan hipotesis harus berlandaskan teori dan konsep yang sudah ada)

-        Masakannya = pengetahuan ilmiah baru (yang sebelumnya tidak ada)

-        Pelakunya (peneliti) = jurumasak.

 

Alipir Budiman (Menghidupkan Suasana Belajar, BPost 14 Des 2002) berpendapat bahwa guru juga berperan sebagai jurumasak dengan mengatakan bahwa:

-        menciptakan resep baru sudah pasti harus dimiliki guru.

-        guru sebagai koki yang telah meramu dan mengolah bahan mentah (GBPP) menjadi masakan yang siap saji.

-        Soal mencipta resep-resep baru, hal ini justeru diperlukan. Contextual teaching and learning sudah dikembangkan, dan strategi pembelajaran baru boleh ditemukan oleh guru sendiri.

-        Inilah tugas jurumasak (guru/dosen) yang membuat masakan (GBPP) menjadi lebih menarik.

-        Membuat materi pengayaan, tidak cukup mengambil dari literatur saja, tetapi guru perlu menemukan sendiri sesuai kondisi di lapangan.

 

Dalam analogi Alipir itu:

-        Yang diramu dan diolah adalah GBPP

-        Resep baru adalah strategi pembelajaran baru

Jawaban saya:

-        GBPP memang berisi konsep-konsep keilmuan. Namun, ketika guru mengolah bahan mentah (GBPP) itu, apakah ia merumuskan suatu hipotesis? TIDAK.

-        Adakah pengujian hipotesis dilakukan dalam proses itu? TIDAK, karena hipotesisnya saja tidak ada.

-        Adakah konsep keilmuan baru yang dihasilkan? TIDAK. TIDAK ADA PENGETAHUAN ILMIAH BARU YANG DIHASILKAN dalam kegiatan yang disebutkan oleh Alipir itu. Konsepnya yang itu-itu juga. Yang baru adalah cara menyajikannya yang LEBIH MENARIK.

 

Dengan demikian, dalam analogi Alipir itu:

-        Kegiatannya tidak menerapkan metode ilmiah.

-        Kegiatan itu bukan penelitian ilmiah

-        Kegiatan itu bukan memasak (dalam KONTEKS SUBSTANSI KEILMUAN)

-        Guru (pelakunya) DALAM KEGIATAN YANG DICONTOHKAN ITU bukan jurumasak, karena kegiatannya sendiri bukan memasak.

 

Dalam konteks substansi keilmuan materi pelajaran:

-        Kegiatan itu lebih tepat disebut sebagai MENYAJIKAN KONSEP KEILMUAN yang termuat di GBPP dan kurikulum dengan cara yang semenarik mungkin.

-        Karena konsep keilmuannya (pengetahuan ilmiah) = masakan, maka
MENYAJIKAN KONSEP KEILMUAN = MENYAJIKAN MASAKAN

-        Pelakunya = PRAMUSAJI.

 

DOSEN = JURUMASAK + PRAMUSAJI sebab:

-        Ia wajib mengajar. Artinya, ia harus menyiapkan materi pelajaran (konsep keilmuan), kemudian menyajikannya kepada mahasiswa. Ia adalah pramusaji, walaupun cara menyajikannya tidak sama dengan cara guru menyajikan materi kepada siswa. Pramusaji

-        Ia wajib meneliti. Artinya, ia harus menemukan pengetahuan ilmiah baru di bidangnya. Sebagian dari temuan itu (yang relevan dg mata kuliah dan sesuai dengan tingkat kemampuan mahasiswa) harus disampaikan ke mahasiswa. Jurumasak.

-        Kedua kegiatan itu (mengajar dan meneliti) dilakukan terus menerus dan saling terkait. Materi yang disampaikan terus bertambah dari tahun ke tahun, tidak tergantung pada kurikulum (yang di perguruan tinggi hanya berisi judul mata kuliah) ataupun silabus dan GBPP (yang dibuat sendiri oleh si dosen).

 

GURU = PRAMUSAJI sudah pasti

GURU = JURUMASAK apabila:

-        melakukan penelitian ilmiah yang menerapkan metode ilmiah dan menghasilkan pengetahuan ilmiah (teori / konsep ilmiah) baru. (dalam KONTEKS SUBSTANSI KEILMUAN, yang saya maksudkan selama ini)

-        pembicaraannya dalam konteks menyajikan materi pelajaran (yang dimaksud oleh Zulfa dan Alipir)

 

Jadi, barangkali ada benarnya redaksi Banjarmasin Post memutuskan untuk tidak meneruskan polemik tentang tugas guru dan tugas dosen. Soalnya, masing-masing pihak berbicara dengan sudut pandang sendiri. Untuk masalah ini saya tidak merasa bersalah. Saya paham betul sudut pandang Zulfa (lihat Perumpamaan Tugas Dosen dan Tugas Guru) dan Alipir (lihat uraian di atas). Tapi, apakah mereka paham juga sudut pandang saya? Semoga setelah membaca tulisan ini, jawabannya Ya.

 

Memang ada dosen yang tidak pernah lagi melakukan penelitian. Bukan hanya itu: ada dosen yang tidak pernah lagi mengajar. Misalnya, yang sudah duduk di birokrasi, baik di universitas ataupun lembaga pemerintah. Itu REALITAS. Tapi, saya mengemukakan apa yang seharusnya ditampilkan oleh dosen berdasarkan pustaka (Edward Shills) dan peraturan negara (Keputusan Menteri Koordinator Bidang Pengawasan Pembangunan dan Pendayagunaan Aparatur Negara No. 38/KEP/MK.WASPAN/8/1999). Itu yang IDEAL.

Saya memang berbicara tugas dosen berdasarkan yang ideal, yang seharusnya. Bukankah tugas dan kewajiban guru yang diutarakan oleh Nadzmi, Zulfa, dan Alipir juga yang ideal? Memang ada dosen yang tidak ideal. Tapi, bukankah guru pun ada yang tidak ideal. Kalau kita berbicara dan membandingkan tugas guru dan tugas dosen berdasarkan realitas, apakah ada ukurannya sejauh mana sudah realitas itu menyimpang dari yang ideal? Akankah kita bisa mendapatkan titik temu?

Sebaliknya, yang ideal sudah jelas. Tinggal dibandingkan saja. Kemudian, setelah yang ideal disepakati, realitas bisa diarahkan menuju yang ideal. Bukan sebaliknya, idealisme dimodifikasi sehingga sesuai dengan realitas.

Mengapa membandingkan tugas dosen dan tugas guru? Yang mula-mula membandingkan siapa? Yang bikin gara-gara siapa? Saya hanya merespons. Saya hanya berusaha meluruskan pandangan yang menurut saya bengkok. Itulah antara lain tugas ilmuwan (seperti yang saya ajarkan kepada mahasiswa saya peserta mata kuliah Filsafat Ilmu).

 

 

Dipublikasikan lewat http://gafura.tripod.com

Tanggal 13 Januari 2002