Make your own free website on Tripod.com

www.indomedia.com

| HOME | Berita Utama |

09 December 2002

I

Perumpamaan Tugas Dosen Dan Tugas Guru

(Tanggapan Balik Terhadap Zulfa Jamalie)

Oleh Abdul Gafur

Terus terang, saya sebenarnya memperkirakan dan berharap bahwa tanggapan atas tulisan saya [Tugas Dosen Lebih Ringan?] datang dari bapak atau ibu guru. Ternyata tanggapan itu justeru dari sesama dosen. Mungkin para guru tidak punya cukup waktu untuk menulis. Mudah-mudahan bukan karena mereka tidak punya cukup waktu untuk membaca. Terlepas dari itu, ada beberapa hal yang saya anggap perlu diluruskan, meskipun Zulfa mengaku membaca berkali-kali tulisan saya itu sebelum akhirnya memberikan tanggapan.

Latar Belakang

Pertama-tama saya ingin menyampaikan bahwa sampai dengan saya menulis naskah tulisan saya itu, saya sependapat dengan Zulfa bahwa sebenarnya kita tidak usah membanding-bandingkan tugas guru dengan tugas dosen untuk mencari mana yang lebih berat dan lebih ringan.

Lantas, mengapa saya malah membandingkannya? Tulisan saya itu justeru dilatarbelakangi oleh pandangan yang telanjur berkembang, yang saya tangkap bukan hanya dari tulisan Nazmi, bahwa tugas dosen sebenarnya lebih ringan dari tugas guru. Kata-kata "pendidik yang menghadapi anak di tingkat yang lebih rendah, misalnya SD dan TK, dituntut untuk memiliki kemampuan khusus dan mengemban tanggung jawab yang lebih berat dibandingkan dengan dosen" saya ambil dari tulisan Nazmi. Saya bermaksud menyangkal hal itu. Karena itu, saya memberikan uraian agak panjang mengenai tugas ideal seorang dosen. Saya menekankan hal-hal yang menurut saya menampilkan bagian tugas dosen yang lebih berat dari tugas guru. Saya ingin mengembalikan timbangan yang sudah telanjur miring ke sebelah tadi.

Saya sadar sepenuhnya, bahwa seharusnya saya juga membahas tugas dan kewajiban guru dalam pembandingan itu. Namun, keterbatasan ruang membuat saya mengurungkannya. Saya berharap pembaca merujuk ke tulisan Nazmi mengenai hal itu. Saya hanya mengatakan secara umum, setelah membandingkan siapa yang dihadapi oleh dosen dan oleh guru, bahwa "Dalam hal ini tugas dosen memang terlihat lebih ringan". Maksud saya dalam paragraf itu adalah bahwa dalam hal yang berkaitan dengan cara menghadapi peserta didik, tugas guru memang lebih berat. Akan tetapi, uraian selanjutnya saya maksudkan untuk mengimbangi hal itu dengan menunjukkan bahwa dalam hal lain tugas dosen lebih berat.

Akhirnya, di bagian penutup saya sampaikan ketidakberanian saya untuk menarik kesimpulan mengenai tugas siapa yang lebih berat. Tidakkah itu berarti bahwa sampai saat saya menulis naskahnya, saya masih menganggapnya ‘draw’? Namun, saya tekankan misi utama tulisan saya, bahwa saya tidak sependapat kalau dikatakan bahwa tugas dosen lebih ringan dari tugas guru. Sekali lagi, itu untuk pengimbang, untuk menangkal pandangan sebaliknya yang ada di masyarakat.

Perumpamaan

Mengenai perumpamaan sebagai pramusaji, pertama-tama perlu saya tekankan bahwa saya sama sekali tidak memandang bahwa pramusaji adalah profesi yang rendah. Karena itu, tidak benar kalau dikatakan bahwa dengan mengumpamakan sebagai pramusaji saya menganggap remeh tugas guru. Perumpamaan sebagai pramusaji itu saya berikan setelah empat paragraf yang mengulas tentang materi yang diajarkan oleh dosen dan oleh guru. Jadi, perlu saya ingatkan bahwa perumpamaan itu adalah dalam konteks materi pelajaran. Barangkali perumpamaan itu tidak terlalu tepat, namanya juga umpama, tetapi saya tidak menemukan perumpamaan lain yang lebih pas.

Mari kita lihat dulu apa pekerjaan pramusaji. Setahu saya, pramusaji adalah orang yang bertugas menyuguhkan makanan kepada tamu yang datang di sebuah rumah makan. Di dalam pekerjaannya tercakup antara lain menata meja lengkap dengan peralatan makan/minum dan hiasan. Ia bertanggung jawab untuk menciptakan suasana yang nyaman bagi tamu ketika menghadapi hidangan, menyantap hidangan, sampai akhirnya meninggalkan meja. Peran itu tidak bisa dianggap enteng. Lezatnya masakan bisa hilang apabila tamu menyantapnya sambil menggerutu atau malah tidak mau menyentuhnya karena penyajian yang sembrono. Adanya pendidikan khusus pramusaji membuktikan bahwa untuk menjadi seorang pramusaji profesional dibutuhkan ketrampilan khusus yang diperoleh secara khusus pula.

Meskipun demikian, tugas pramusaji tidak mencakup rasa masakan. Tamu tidak bisa menyalahkan pramusaji apabila makanan terlalu asin, pahit, hambar, dsb. Itu urusan jurumasak. Begitu pula dengan menciptakan resep-resep masakan baru. Memang biasanya tamu menyampaikan keluhannya tentang rasa masakan ke pramusaji, tetapi si pramusaji sekedar mencatatnya untuk disampaikan ke jurumasak. Kalau di tengah menyantap hidangan tamu memesan tambahan, pramusaji cukup pergi ke belakang untuk meminta jurumasak menyiapkannya. Jelas, peran jurumasak di sebuah restoran amatlah penting.

Bagaimanapun manisnya penyajian hidangan, kalau masakannya sendiri ternyata tidak enak, tamu tidak akan sudi datang lagi. Jurumasak adalah profesi yang membutuhkan ketrampilan khusus yang tidak semua orang memilikinya dan tidak jarang harus diperoleh melalui pendidikan khusus pula. Saya tidak mengatakan bahwa tugas jurumasak lebih berat dari pramusaji, tetapi saya tidak sependapat kalau dikatakan tugas jurumasak lebih ringan dari tugas pramusaji.

Mengapa saya mengibaratkan guru seperti pramusaji? Dalam konteks materi pelajaran, guru memang dituntut menguasai bahan bidang studi, seperti diutarakan Zulfa. Namun, ia tidak dituntut mengembangkan substansi keilmuan bidang studi. Guru biologi, misalnya, memang harus menguasai (dalam batas tertentu) ilmu biologi yang sudah ada. Namun, apakah ia diwajibkan menyumbangkan pengetahuan baru di bidang biologi? Pernahkah seorang guru fisika dituntut menghasilkan temuan baru di bidang fisika? Sebaliknya, karena merangkap sebagai peneliti, dosen jelas harus meneliti yang berarti menghasilkan temuan baru di bidangnya. Tanggung jawab keilmuan seorang guru, seperti dikutipkan oleh Zulfa dari Cece Wijaya dan Tabrani Rusyan, tidak sama dengan tanggung jawab keilmuan dosen yang saya kutipkan dari Edward Shills.

Zulfa mengatakan bahwa GBPP hanya acuan. Guru tetap bertugas merancang pembelajaran sebaik-baiknya, menggayutkan dengan permasalahan yang ada, mengimprovisasi dan menyelaraskan dengan situasi dan kondisi di kelas. Metode, media, atau teknik yang direkomendasikan harus dipelajari dulu karena belum tentu cocok dengan kondisi anak. Saya tambahkan, GBPP berisikan materi minimal yang perlu dipelajari oleh siswa, yang berarti guru bisa menambahkan materi seperlunya sesuai dengan kemampuan siswa. Akan tetapi, ada yang tidak tercantum dalam daftar panjang tadi, yaitu keharusan untuk mengajarkan ilmu baru yang ditemukan sendiri oleh si guru. Guru boleh menggunakan pendekatan, metode, atau alat bantu apa saja, bahkan yang lain dari yang direkomendasikan oleh GBPP, untuk mengajarkan, misalnya, proses pembelahan sel. Namun, konsep pembelahan selnya sendiri sama saja. Kalaupun guru menambah materi pelajaran sehingga melebihi tuntutan GBPP, tambahannya cukup diambil dari pustaka saja, tidak harus dari temuannya sendiri.

Jadi, dari segi materi keilmuan, guru hanya menyampaikan konsep yang sudah ada. Cara menyampaikannya silakan mana yang terbaik menurut guru. Terserah pula posisi yang diambil guru dalam pembelajarannya (ing ngarsa, ing madya, atau tut wuri). Kompetensi guru seperti disebutkan Zulfa, yaitu penguasaan bahan bidang studi, pengelolaan program belajar mengajar, pengelolaan kelas, pengelolaan dan penggunaan media dan sumber belajar, dan penilaian prestasi belajar mengajar, ditambah dengan integritas pribadi, kepekaan, keluwesan, keuletan, dsb, semuanya menunjang supaya guru lebih mampu membuat siswa tertarik, termotivasi, dan terfasilitasi untuk belajar dan ujungnya adalah pencapaian hasil belajar yang maksimal.

Bagaimana kalau ada temuan baru di bidang yang bersangkutan, yang membuat konsep sebelumnya dianggap ketinggalan atau malah keliru? Sebagai contoh, di dalam Kurikulum Biologi SMU 2001 dan kurikulum sebelumnya dicantumkan Protozoa sebagai bagian dari Kingdom Animalia. Padahal, dalam sistem 4 kingdom yang dicetuskan setengah abad lalu atau sistem 5 kingdom yang diperkenalkan sejak 1969, Protozoa adalah anggota dari Kingdom Protista, bukan Animalia. Nah, manakala ada guru yang mengajarkan kepada siswanya bahwa protozoa adalah hewan, bisakah si guru disalahkan? Kalau dituding, tidak bisakah ia berdalih bahwa kurikulum yang bilang begitu, buku paket yang menjelaskan seperti itu. Dosen tidak bisa begitu.

Berangkat dari situlah saya mengibaratkan guru sebagai pramusaji. Ia bertugas menyajikan materi kepada siswa dengan cara yang sebaik-baiknya, tetapi materi keilmuannya sendiri adalah barang masak yang dimasak oleh orang lain (peneliti, pakar bidang ilmu yang bersangkutan). Sekali lagi saya tekankan, perumpamaan itu hanya berlaku dalam konteks materi keilmuan.

Saya tidak menampik bahwa guru adalah sosok yang digugu dan ditiru. Tugas guru tidak semata mengajar. Guru juga bertanggung jawab dalam pewarisan nilai dan norma kepada siswa. Guru juga mengemban tanggung jawab-tanggung jawab lain, seperti disebutkan Zulfa. Hanya saja, memang, tulisan saya tidak mengarah ke pembahasan tentang itu.

Saya mengibaratkan mahasiswa seperti anak yang bisa mengerti pentingnya makanan bergizi atau pentingnya minum obat. Sementara siswa saya umpamakan balita yang maunya bermain saja sampai lupa makan; ketika sakit tidak mau minum obat. Jelas, memberi ‘makan’ mahasiswa lebih mudah. Dosen tidak perlu mencari akal macam-macam seperti guru supaya muridnya mau menyantap hidangan yang disajikan. Dosen tidak perlu habis-habisan menata meja, sebab mahasiswa ‘kelaparan’ akan mau saja menyikat hidangan walau hanya disajikan beralas koran. Yang lebih penting, dosen harus memastikan bahwa hidangan yang ia sajikan adalah makanan bergizi, bukan ampas apalagi racun. Bergizi saja belum cukup, harus lebih dan lebih bergizi dari waktu ke waktu. Penampilan hidangan dan cara penyajian adalah nomor dua, walau tidak berarti tidak penting. Tugas guru sebagai penyaji memang lebih berat, sehingga ia harus dibekali dengan ilmu penyajian yang lebih banyak. Namun, ia tidak harus memasak. Sementara itu, tugas dosen sebagai penyaji terlihat lebih ringan, tetapi ia juga harus memasak.

Tidak Perlu?

Seperti saya katakan di depan, tadinya saya sependapat dengan Zulfa untuk tidak usah membanding-bandingkan tugas dosen dengan tugas guru. Akan tetapi, ada hal yang mungkin bisa membuat kami berubah pikiran. Pasalnya, tugas/tanggung jawab berbanding lurus dengan hak. Semakin besar hak, semakin berat tugas. Kenyataannya, tunjangan fungsional (hak) dosen lebih tinggi dari tunjangan guru. Apakah itu mencerminkan pengakuan bahwa tanggung jawab dosen lebih besar? Sejawat saya pernah berseloroh, kalau tunjangan guru disamakan dengan tunjangan dosen, apalagi lebih besar, kita minta pindah profesi jadi guru SD saja, biar mereka yang jadi dosen. Ada yang tertarik mendiskusikannya?

Abdul Gafur
Dosen PS Biologi FMIPA Unlam