Make your own free website on Tripod.com

Profesi Pendidik dalam Tingkatan Pendidikan

(Tanggapan terhadap Tulisan Siti Norhayah R.)

 

Oleh Nadzmi Akbar

 

 

Tulisan saudari Siti Norhayah dengan judul 'Pasar Bebas dan Profil pendidik Kita'. Banyak mengupas tentang ketertinggalan pendidikan kita. Salah satunya adalah tentang penempatan pendidik pada suatu jenjang pendidikan yang kurang pas. Kalau tidak salah ada tersirat usul, untuk melakukan apa yang telah dilaksanakan oleh Amereika Serikat yaitu para guru/pendidik di tes ulang untuk menentukan layaktidaknya guru tersebut mengajar pada tingkatan yang dia miliki, kalau tidak layak/lulus seleksi, maka dia akan diturunkan ke tingkat lebih rendah dalam mengajar di sekolah, meskipun dia seorang dosen Perguruan Tinggi dan memliki ijazah Doctor (S3). Jika tidak berkopetensi dan tak profesional di bidangnya, maka dosen tersebut akan di turunkan kc sekolah menengah, tetapi sebaliknya jika guru sekolah menengah lulus tes dan layak untuk mengajar di perguruan tinggi untuk menjadi dosen maka ia akan diangkat menjadi dosen di perguruan tinggi,

 

Pendapat tersebut memang benar namun disitu ada tersirat bahwa orang yang mengajar di jenjang lebih tinggi lebih hebat dan serba bisa, daripada orang yang mengajar ditingkat yang lebih rendah. Sebenarnya semua pendidik itu tidak ada bedanya baik itu pendidik tingkat atas atau di bawahnya, bahkan pendidik yang berada pada tingkat yang paling rendah harus mempunyai kemampuan yang lebih dibandingkan dengan tingkat yang lebih tinggi. Untuk lebih jelasnya bisa diikuti uraian sebagai berikut;

 

Dalam melakukan sebuah kegiatan yang dikatagorikan sebuah profesi, idealnya adalah dilakukan oleh seseorang yang mempunyai kemampuan atau kopetensi dibidang kegiatan atau pekerjaan yang ditekuninya Kemampuan tersebut meliputi bakat (apitude), minat (interest), kecerdasan (intelligence) dan emosi (emotion) yang akan ditelorkan melalui kemampuan motorik.

 

Diakui memang, kalau di Indonesia dalam pembagian-pembagian pekerjaan, atau bagi siapa saja yang ingin terjun ke sebuah profesi atau pekerjaan sering melupakan aspek-aspek psikis tersebut di atas. Karena kebanyakan masyarakat kita mernilih suatu pekerjaan lebih berpatokan kepada bentuk motivasi-motivasi externsik, misalnya, seseorang akan berusaha dengan berbagai cara untuk mendapatkan pekerjaan, karena dengan pekerjaan tersebut, hidupnya akan terjamin dalam jangka waktu yang lama, atau mudah dalam mendapatkan uang yang banyak, serta dengan pekerjaan dan jabatan yang dipegang maka dia menjadi seseorang yang dihormati oleh orang ,lain, yang tak kalah penting adalah adanya peluang dan kesempatan yang mungkin hanya didapat satu kali dalam hidup.

 

Bentuk-bentuk motivasi tersebut menyebabkan seseorang tidak mau memperhatikan aspek aspek psikis tadi, padahal aspek itulah yang menyebabkan seseorang mampu melakukan pekerjaan secara profesional di bidangnya. Pada akhirnya akan menelorkan hasil - has il yang jauh dari harapan masyarakat atau pihak-pihhak lainnya. Keadaan tersebut hampir terjadi pada semua bidang kegiatan pekerjaan atau profesi, begitu juga halnya pada profesi pendidik.

 

Negara-negara maju yang ada sekarang ini seperti Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Jerman serta negara maju lainnya, sangat disiplin dalam pengaturan profesi pada sebuah pekerjaan. Hal itu didukung oleh kesadaran sebagian besar masyarakatnya dalam mengaplikasikan dirinya  di sebuah profesi pekerjaan dengan didasarkan pada kreteria tersebut di atas yaitu disesuaikan dengan aspek bakat, minat, kecerdasan dan emosinya serta keterampilan motorik. Individu diarahkan kepada sebuah pekerjaan tidak bersifat insidentil atau seketika tetapi sejak dia menempuh pendidikannya di sekolah formal.

 

Kegiatan tersebut sudah lama di mulai di negara-negara maju. yaitu sejak Yeise B Davis bekerja sebagai konselor pada Central High School Detroit tahun 1898 khusus menangani dan memberi bantuan kepada siswanya menghadapi masalah pendidikan dan pekerjaan (Vocation). Kemudian disusul oleh Frank Persons yang mendirikan suatu biro vocational memberikan bantuan. dalam memilih jabatan yang sesuai dengan minat dan kemampuannya. Sejak pertama kehadirannya kegiatan-kegiatan yang mengupayakan kesesuaian antara pekerjaan dengan minat dan kemampuan individu, sangat didukung oleh pemerintah dan masyarakat negeranya. .

 

Pada saat sekarang perkembangan tentang bimbingan vocation atau karer sangat diperhatikan sekali oleh masyarakat di sana agar setiap individu dapat menjalankan protesinya secara profesional. Dengan demikian hasil yang didapatkan akan memuaskan juga, berbeda dengan individu yang hanya berpatokan kepada motivasi externsik, pada akhirnya akan muncul kejenuhan dalam peker jaannya berakibat tidak seriusnya seseorang dalam menjalankan tugasnya. Kejenuhan tersebut bisa diakibatkan oleh karena kurangnya  minat atau kemampuan yang dimiliki pada bidang pekerjaannya. Dapat kita interpretasikan bahwa pekerjaan yang tidak serius dalam pelaksanaannya, akan menghasilkan karya yang buruk.

 

Pendidik sebagai sebuah profesi harus dilaksanakan, oleh orang yang benar-benar mempunyai minat dan kemampuan dibidang kependidikan. Minat dalam pengertian disini tidak hanya sebatas menyukai sesuatu profesi oleh karena adanya motivasi externsik, tetapi harus diterjemahkan kepeda kecenderungan jiwa seseorang untuk menyukai sebuah kegiatan yang diikuti oleh ketiga fungsi jiwa yaitu kognisi, konasi, dan emosi atau mensiter pendapat Guilford ; yang dimaksud dengan minat

adalah perasaan menjadi satu atau identifikasi antara individu dengan objek, situasi, orang atau aktivitas.

 

Dengan demikian individu yang berminat untuk menjadi seorang pendidikan tidak akan pernah merasa bosan dan jenuh dalam melakukan aktivitasnya sebagai pendidik, bahkan akan selalu menigkatkan kemampuannya dan selalu melakukan modifikasi‑modifikasi agar apa yang dilakukanya dapat menghasilkan output yang berkualitas. Apa yang telah dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap pendidik adalah hanya sebagai penyesuaian kecenderungan seorang pendidik terhadap siswa yang di hadapinya, apakah seseorang lebih cocok mengahadapi anak‑anak atau orang dewasa.

 

Sedangkan kemampuan dalam penguasaan ilmu pendidikan relatif sama, begitu juga dengan penguasaan materi, karena mereka sudah menyelesaikan kuliahnya dan melalui seleksi yang ketat untuk menjadi seorang pendidik.  Hal tersebut dimaksudkan menghindari terjadi ketidak sesuaian antara anak dengan cara mengajar guru atau dosen, jika seorang dosen menerapkan proses belajarnya sama dengan mengajar di SMU, tidak mustahil mahasiswa akan merasa jenuh dan kurang memperhatikan apa yang disampaikan dosennya. Begitu juga dengan siswa SMU atau SLTP, jika pendidiknya menghadapi mereka seperti mahasiswa maka akan kesulitan bagi siswa untuk menyerap materi yang disampaikan.

 

Penting diingat, bahwa kecenderungan seseorang terhadap sesuatu adalah hal sangat sulit dihilangkan walaupun individu tersebut mengetahui bagaimana cara menghadapi anak didik yang bersekolah di SD, SLTP dan SMU bahkan di perguruan tinggi. Kesimpulannya kegiatan itu bukan bermaksud menurunkan kredebilatas seseorang sebagai pendidik pada sebuah jenjang pendidikan.

 

Penulis cenderung berpendapat bahwa pendidik yang menghadapi anak berada ditingkat yang lebih rendah, misalnya siswa SD dan TK adalah sebuah pekerjaan yang memerlukan kemampuan khusus dan tanggungjawab yang lebih berat, dibanding dengan pendidik yang berada di Perguruan Tinggi. Karena pada tingkat tersebut adalah sebagai dasar pendidikan mereka selanjutnya, pendidik dituntut untuk memahami anak serta mempunyai kemampuan penguasaan metode dalam menghadapi mereka.

 

Di sini dibutuhkan orang‑orang yang tepat dalam melaksanakan pen­didikannya. Amereka Serikat dan negara‑negara maju lainnya, justru pada tingkat yang paling bawah ini yang mendapat perhatian khusus, sehingga jangan heran jika. tenaga pendidik pada tingkat ini menggunakan DR dan Profesor. Permasalahan negara kita sebenarnya terletak pada pemberian penghargaan kepada pendidik yang berada ditingkat lebih rendah masih tidak sebanding dengan tugas yang dilakukan mereka, baik itu penghargaan material maupun spritual, sehingga jika seseorang menekuni tugasnya sebagai pendidik di lembaga pendidikan tingkat rendah akan dianggap mempunyai kemampuan yang lebih rendah, dibandingkan dengan pendidik ditingkat lebih tinggi, padahal idealnya pendapat tersebut sangat terbalik.

 

Boleh dikatakan bahwa para pendidik pada TK, SD, SLTP dan SMU memerlukan kemampuan khusus dan emosi yang relatif stabil. Berbeda dengan pendidik yang berada diperguruan tinggi mereka tidak terlalu di bebani untuk mengatur mahasiswa. atau hal‑hal lain, bahkan terkadang justeru mahasiswa yang harus memahami Dosennya, dengan demikian dia akan mudah menyerap materi yang disampaikan dan mudah dalam menghadapi ujian. Walaupun edialnya antara dosen dan mahasiswa harus saling memahami.

 

Sebenarnya di Indonesia juga menerapkan apa yang dilakukan oleh negara‑negara maju dalam pengaturan jabatan sebagai contoh dalam peraturan kepegawaian, jika seseorang tidak mampu melaksanakan jabatannya sebagai tenaga fungsional termasuk pendidik, dengan indikator j ika selama 6 tahun tidak naik pangkat maka akan pindah ke tenaga struktural. Diakui hal tersebut masih terlalu umum dan tidak mengklasifikasikan jenis‑jenis pekerjaan secara tajam.

 

Terkait dengan permasalahan di atas, pada prosesnya masyarakat kita dalam memilih jurusan pendidikan, mereka lebih berorientasi dalam usaha mendapatkan pekerjaan, dan tidak dapat dipungkiri bahwa yang masih banyak diperlukan adalah tenaga pendidik yang mana terungkap Indonesia masih kekurang 350. 000 tenaga pendidik. Keadaan tersebut menyebabkan banyak orang memilih jurusan FKIP atau Tarbiyah tanpa memperhatikan apakah mereka mempunyai minat dan kemampuan pada bidang pendidikan, pada akhirnya akan menjadi seorang sarjana pendidikan, Siapa lagi yang diangkat menjadi pendidik selain mereka, juga didukung oleh tidak terlalu ketatnya test kompetensi dalam mengangkat seorang menjadi pendidik. Untuk itu perlu persiapan lebih dini bagi seseorang yang ingin terjun ke sebuah profesi yaitu ketika memilih jurusan dalam pendidikannya. Dan lulusan sebuah lembaga pendidikan harus benar‑benar menelorkan output berkulitas dibidangnya.

 

Nadzmi Akbar

Pemerhati Masalah Sosial dan Pendidikan

Tinggal di Banjarmasin

 

 


Banjarmasin Post, 27 Agustus 2002