Make your own free website on Tripod.com

Menghidupkan Suasana Belajar

(Mengkaji tugas Dosen dan Guru)

 

Oleh Alipir Budiman

 

 

Wacana sederhana tentang profesi guru dan dosen dipolemik habis-­habisan oleh Abdul Gafur dan Zulfa Jamalie. Zulfa menyarankan agar tidak usah dikomparasikan antara profesi kedua tenaga pendidik itu, tapi Abdul Gafur merasa perlu. Tulisan ini bermaksud mencari problem solving sekaligus menutup polemik tersebut.

 

Memang, apa untungnya mengkomparasikan kedua profesi itu? Adu argumen yang menarnbah kabur konklusinya. Dari kacamata guru, profesi guru lebih berat, tapi menurut dosen, justru mereka yang lebih berat. Gafur menganalogikan guru sebagai seorang pramusaji, sementara dosen selain pramusaji juga seorang koki.

 

Keliru

 

Tampaknya tulisan tersebut ingin memaksa pembaca untuk mengamini bahwa tugas dosen sebenarnya lebih berat dari guru, hanya karena kelebihannya sebagai seorang jurumasak. Analogi tersebut sungguh keliru untuk dijadikan perbedaan, dan Gafur menginterpretasikannya dengan kaku.

 

Menurutnya, dalam konteks materi pelajaran, guru memang dituntut menguasai bahan ajar, merancang pembelajaran sebaik‑baiknya, materi kontekstual, metode, media, teknik dan lain sebagainya untuk membuat siswa lebih  tertarik sehingga "menyantap hidangan yang disajikan dengan nikmat".

 

Namun, sumber perbedannnya me nurut Gafur, guru tidak diwajibkan menyumbangkan pengetahuan baru, atau kalau ingin membuat pengayaan materi, cukup diambil dari pustaka, tidak harus dari temuannya sendiri. Dianalogikan, guru hanya bertanggung jawab menciptakan suasana yang enjoy bagi "tamu " ketika menghadapi dan menyantap hidangan, sampai meninggalkan meja. Sementara rasa masakan, menciptakan resep‑resep baru, sudah bukan tanggungjawabnya lagi.

 

Inilah analogi yang keliru. Banyak orang mempersepsikan peranan guru dengan pandangan sempit, yang tidak bertanggungjawab terhadap, ini dan ini. Padahal, rasa masakan, ataupun menciptakan resep baru, sudah pasti harus dimiliki guru. Berbicara tentang rasa dan suatu masakan, tidak akan lepas dari guru sebagai koki yang telah meramu dan mengolah bahan mentah (GBPP) menjadi masakan yang siap saji. Berbicara tentang koki yang menyiapkan masakan, berarti berbicara tentang cara dia mengolah dan memberi bumbu sehingga dapat menghasilkan rasa yang lezat Demikian juga dengan pembelajaran. Satu materi pembelajaran jika diajarkan oleh dosen/guru/tutor yang berbeda akan dirasakan oleh warga belajar dengan rasa yang berbeda pula. Inilah tugas jurumasak (guru/ dosen) yang membuat masakan (GBPP) menjadi lebih menarik.

 

Soal mencipta resep‑resep baru hal ini justru diperlukan. Kalau tidak, maka pembelajaran laksana robot yang patuh. Contextual teaching and learning sudah dikembangkan, dan strategi pembelajaran baru boleh ditemukan oleh guru sendiri. Membuat materi pengayaan, tidak cukup mengambil dari literatur saja, tetapi, guru perlu menemukan sendiri sesuai kondisi di lapangan. Kalau ada materi yang salah dari GBPP, jelas tanggung jawab guru untuk membetulkannya. Kalau guru terpaku pada kurikulum yang salah itu, berarti guru adalah robot kaku yang telah kehilangan dinamika gerak. Malah, sekarang inovasi pendidikan dimaksudkan untuk melepas belenggu keterikatan dengan GBPP, meski tanpa harus kehilangan kendali/acuan.

 

Penyajian

 

Sebagai seorang dosen, Gafur mengibaratkan mahasiswa seperti anak yang bisa mangerti pentingnya makanan bergizi. Memberi makan mahasiswa lebih mudah. Dosen tidak perlu mencari akal macam‑macam supaya murid mau menyantap hidangan, tidak perlu habis‑habisan menata meja, sebab mahasiswa akan mau saja menyikat hidangan walau disajikan beralas koran. Penampilan hidangan dan cara penyaiian nomor dua. Yang penting makanannya bergizi. Karena selain menyajikan, dosen juga memasak.

 

GBPP itu sendiri ternyata juga bukan buatan dosen. Bahan ajar dicomot dari berbagai literatur yang telah ditulis para ahli. Apakah kewajiban menyumbangkan pengetahuan baru itu telah dilaksanakan? Sedikit sekali para dosen yang melakukan penelitian dan karyanya telah dipatenkan sebagai ilmu pengetahuan baru. Sebagai ilustrasi, sepengetahuan saya, tidak ada penelitian dari dosen-­dosen Biologi FKIP Unlam yang karyanya menjadi acuan dalam penulisan naskah Biologi di tingkat nasional, malah sebaliknya, banyak dosen yang justru mengutip ilmu pengetahuan dari berbagai literatur yang telah ditulis. Penulisan karya ilmiah tidak jarang hanya sekadar memenuhi kewajiban, selain mengejar angka kredit.

 

Ditambah, lagi dengan cara mengajar yang menomorduakan penampilan dan cara penyajian, berarti dosen seperti ini adalah dosen pasif yang berharap akan tercipta pembelajaran aktif. Strategi yang bervariasi, bertujuan agar mahasiswa mempunyai jiwa kemandirian dalam belajar dari kalau bisa diusahakan untuk menumbuhkan daya kreativitas sehingga mampu membuat inovasi‑inovasi. Kemampuan dosen dalam mengajar menciptakan mahasiswa belajar aktif. Belajar aktif f mutlak mereka perlukan untuk mengikat informasi yang baru kemudian menyimpannya dalam otak. Agar otak dapat memproses informasi dengan baik, maka akan sangat membantu kalau terjadi proses refleksi secara internal. Filosofi mengajar yang baik bukan sekadar, mentransfer pengetahuan kepada mahasiswa (memberi makanan bergizi), akan tetapi bagaimana membantu mahasiswa supaya dapat belajar.

 

Oleh sebab itu, betapapun menariknya materi kuliah disampaikan, kalau penyampaiannya dinomorduakan, informasi tidak akan lama tersimpan dalam otak, karena tidak terjadi proses penyimpanan dengan baik. Apalagi mahasiswa masing-­masing punya learning style.

 

Hidupkan Suasana Belajar'

 

Kalau ada kecenderungan sebagian orang menganggap tugas dosen lebih ringan, itu tidak lebih dari realitas yang banyak ditemukan di kampus. Dosen sesekali mengajar, gayanya monoton ceramah, menyuruh mahasiswa membaca sumber literatur, selebihnya dibantu asisten. Sementara sang dosen sibuk penelitian untuk mendongkrak perolehan credit point.

 

Tugas guru dianggap lebih berat, karena guru mendidik dengan pedagogi, bukan andragogi. Artinya, strategi dan variasi mengajar yang tentu sesuai dengan karakteristik di atas. Selain itu, ada administrasi dan manajemen kelas yang harus dilakukan.

 

Jadi, pada intinya tugas dosen dan tugas guru itu sama. saja. Semuanya adalah koki yang merangkap jadi pramusaji, yang siap untuk menyajikan pelajaran dengan menarik dan membuat pembeli merasa senang.

 

Kita jangan berasumsi bahwa pembelajaran lebih bersifat mencekokkan ilmu (instruct), tetapi adalah mencangkok ilmu (construct) . Kita berikan kesempatan siswa/mahasiswa untuk mencari informasi dan perkembangan terbaru (well informed), memberikan ruang gerak pada mereka untuk berkreativitas dan untuk belajar bernalar.

 

Karenanya, mari kita berlomba membuat nasi goreng yang dihidangkan di restoran kita supaya pembeli merasakan lebih enak dari nasi goreng yang ada di restoran lain. Kita hidupkan suasana belajar agar tidak membosankan. Harapan kita bisa terwujudnya enhancing teaching and learning, lightening the teaming climate.

 

Alipir Budiman SPd

Staf Pengajar MTsN 2 Gambut Kab Banjar

 

 

Banjarmasin Post 14 Desember 2002